Negeri Para Raksasa | Dongeng Anak Terbaru

dongeng raksasa
Negeri Para Raksasa - Pada zaman dahulu ketika umur bumi masih muda,terjadi peperangan dan kekacauan di mana-mana. Para kerajaan saling berperang untuk memperebutkan wilayah dan melebarkan kekuasaan.

Maka pada masa itu,dunia di dominasi dua kerajaan besar yang sama-sama kuat.Kerajaan Eutopia yang di pimpin oleh raja alexander yang bijak,dan kerajaan Theodore yang di pimpin oleh raja zuma yang kejam dan berlaku tiran. Kedua kerajaan besar itu bertarung bertahun-tahun,menyerang dan
bertahan,berusaha menjatuhkan satu sama lain untuk mempertahankan kekuasaan masing-masing.

Tak terasa sudah hampir 40 tahun lamanya dua kerajaan itu
berperang.Dan usia raja alexander dan raja zuma pun semakin tua.Dan ahirnya pada suatu hari di mulailah sebuah awal dari perubahan
zaman,yang akan mengahiri perang tapi juga menjadi awal sebuah bencana baru yang mengerikan.

Pada suatu hari ketika raja zuma sedang termenung di singgasananya,datanglah seorang penyihir tua menemuinya.Penyihir itu bercerita tentang adanya para prajurit yang sangat kuat,berani,kejam,dan tak terkalahkan.

Mereka di kurung dalam sebuah tempat di langit yang tersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan,sang pencipta menghukum mereka dengan menurunkan para prajurit bersayap untuk memenjarakan mereka dan menjauhkan mereka dari bumi tempat para manusia. Raja zuma sangat tertarik mendengar kisah sang penyihir,dia menemukan harapan untuk memenangkan peperangan yang sudah berlangsung sekian tahun.

"Lanjutkan cerita mu..".Kata raja zuma.

Lalu..Si penyihir pun kembali bercerita,bahwa ada sebuah cara untuk mendatangkan mereka. Dengan membuat sebuah jembatan yang menjulang dari bumi kelangit.

"Bagaimana caranya membuat jembatan penghubung yang menjulang ke langit?Itu hal yang mustahil..".Tanya raja zuma.

"Mungkin jika hanya mengandalkan manusia,memang tak mungkin
paduka.Tapi dengan sedikit sihir yang hamba miliki,keajaiban dapat
terjadi..".Jawab sang penyihir.

Ahirnya..Sang raja zuma pun berniat mendatangkan prajurit yang di
kutuk itu,dia berniat menggunakan mereka untuk menumbangkan kerajaan eutopia. Dan dia mengangkat si penyihir sebagai penasehatnya. Lalu..Pada hari yang di ramalkan dalam buku si penyihir,di mulailah
upacara pembebasan itu. Ketika mendung bergelanyut hitam di kolong langit,ketika guntur dan kilat menyambar menciutkan nyali,jangan kau tanya dari mana suara itu berasal.

Itu adalah suara para prajurit terkutuk yang sedang menempa pedang dan kapak-kapak mereka.Menunggu waktu di mana mereka akan di bebaskan. Lalu..Si penyihir melempar tiga biji kacang yang sudah di mantrai di sebuah tanah lapang.Lalu dia siram dengan sebuah ramuan aneh yang dia bawa di sebuah botol kecil. Dan keajaiban pun terjadi...

Tiga biji kacang itu tumbuh menjadi pohon kacang raksasa,yang
menjulang tinggi menembus hingga ke awan. Raja zuma dan para prajuritnya berkumpul juga di tanah lapang
itu,mereka menunggu apa yang akan turun dari atas sana. Tapi semua sungguh di luar dugaan,ternyata yang datang adalah para raksasa yang liar dan tak terkendali. Jumlah mereka sangat banyak,mencapai ratusan. Mereka memakan segala hal yang mereka temui,ternak bahkan manusia.

Tak butuh waktu lama kerajaan theodore yang besar dan megah menjadi porak poranda,hancur menyisakan puing-puing. Raja zuma mulai menyadari kesalahanya,sifat angkuh dan serakah telah mendorongnya untuk melakukan hal ceroboh. Tapi semua sudah terlanjur,apa yang telah di mulai tak bisa lagi dia ubah. Dan ahirnya raja zuma pun mati di tangan para raksasa yang dia
datangkan sendiri.

Setelah kerajaan theodore musnah,para raksasa pun mulai merambah ke negeri-negeri lain di sekitarnya. Mereka menjarah,memakan,dan menghancurkan apapun yang mereka temui. Berita inipun ahirnya sampai pada raja alexander. Para raksasa mulai mendekat ke negeri yang di pimpinya. Dia pun mengerahkan semua rakyat dan prajurit yang dia miliki untuk membangun sebuah tembok yang tinggi dan besar mengelilingi kota,dan dia menyuruh semua rakyatnya untuk masuk dan berlindung ke dalam kota yang kini berubah fungsi menjadi benteng.

Tapi..Kegelisahan selalu meliputi raja alexander. Jika sampai tembok itu berhasil di tembus,maka tak akan ada lagi
tempat berlindung. Karena kota itu adalah benteng terahir mereka.

Dan ketika raja alexander sedang gundah,datanglah seorang tua
berjanggut putih yang datang menemuinya. Dia adalah seorang yang bijak dan ahli dalam hal keagamaan. Lalu..Orang berjanggut putih itu berkata pada raja alexander..

"Wahai baginda raja,anda adalah seorang raja yang baik dan adil. Paduka tidak usah gundah,karena hamba kemari ingin menyampaikan apa yang hamba tahu".

"Sang pencipta telah memberi hamba ilham dalam mimpi hamba,cara untuk mengalahkan para raksasa. Senjata biasa tak kan mampu menembus kulit mereka,karena sihir hitam melindungi tubuh mereka. Tapi..Ada sebuah pedang peninggalan dari masa lalu yang dapat membunuh mereka. Para prajurit bersayap telah menyimpan pedang itu dalam sebuah gua yang kini tepatnya berada di bawah kerajaan paduka. "DAN HANYA MEREKA YANG PANTAS YANG MAMPU MENEMUKANYA..".

"Dan ketika paduka telah mendapatkan pedang itu,paduka harus bersikap bijak. Paduka tidak boleh membunuh semua raksasa,tapi paduka hanya boleh membunuh pemimpinya saja lalu ambilah cincinya. Dengan cincin itu,paduka bisa memerintah para raksasa untuk kembali ke negeri di balik awan..".Kata lelaki berjanggut putih itu menjelaskan. Dan raja alexander menyanggupinya.

Ahirnya raja alexander pun mencari gua tempat pedang itu
berada,ahirnya dia menemukan gua itu di sebuah ruang rahasia di ruang bawah tanah. Dan raja pun membawa pedang itu dan mengumpulkan para prajurit untuk memberi peringatan.

"Nanti jika para raksasa datang,tidak ada satupun dari kalian yang
boleh ikut berperang. Kalian semua harus berlindung di balik benteng kota bersama para
rakyat yang lain,karena senjata kalian tak mempan untuk melukai
mereka. Cukup aku saja yang akan bertarung..Dan ini perintah.."kata raja alexander.


Para prajurit pun saling berbisik satu sama lain membicarakan
keputusan raja mereka,keraguan meliputi hati mereka. Bagaimana mungkin membiarkan raja mereka berperang seorang diri melawan para raksasa yang ratusan jumlahnya? Mana mungkin seorang manusia dapat menang melawan para raksasa seorang diri? Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepala mereka,tapi karena itu perintah mereka hanya bisa patuh.

Ahirnya waktu yang di tunggu pun tiba,dari kejauhan pasukan raksasa berjalan menuju kerajaan eutopia. Raja alexander berdiri di depan pintu benteng menunggu kedatangan mereka,dia mencari-cari pemimpin para raksasa itu berada. Dan ahirnya dia temukan dengan mudah,karena dengan tiga mata yang hanya di miliki pemimpin para raksasa..Bukan hal sulit menemukanya. Lalu raja alexander pun menaiki kudanya..Pegasus putih,kuda yang di berkahi dengan kekuatan dan kecepatan.

Dengan cepat raja alexander menerjang para raksasa dan melukai
kaki-kaki raksasa dengan pedangnya. Hingga para raksasa yang terkejut membuka jalan dan memudahkan raja alexander menuju pemimpin para raksasa. Para raksasa yang melihat pedang yang di bawa raja alexander menjadi terkejut,ketakutan mulai meliputi mereka. Itu adalah pedang cahaya yang sangat terkenal kisahnya,ribuan raksasa banyak yang mati menjadi korbanya. 

Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh raja alexander,dia pun segera
menerjang ke arah pimpinan para raksasa. Dan dengan cepat dia melompat dan menerjang jantung pimpinan raksasa itu,dan pimpinan raksasa itupun terkapar. Semua berlalu begitu cepat,hingga para raksasa banyak tak menyadarinya. Dan tahu-tahu pemimpin mereka telah tewas..

Dan raja alexander pun mengambil cincin pemimpin raksasa itu dan
mengangkatnya ke atas,semua raksasa pun berlutut melihat cincin yang di bawa raja alexander. Raja alexander ahirnya memerintah para raksasa untuk kembali ke tempat mereka berasal. Setelah semua raksasa kembali,raja pun memerintah untuk memotong pohon kacang itu.

Dan cincin yang di miliki raja alexander ahirnya di sepuh menjadi
sebuah mahkota kerajaan. Dan zaman setelah itupun menjadi damai dan kerajaan eutopia tumbuh menjadi kerajaan yang besar dan luas.
Rakyatnya hidup makmur,damai,dan sejahtera di bawah pimpinan raja alexander yang bijaksana..

Sementara para raksasa kembali ke tempatnya,negeri di balik awan.
Ketika kau dengar suara guntur dan kilat yang menyambar,jangan kau tanya dari mana mereka berasal.Itu adalah suara para raksasa yang menempa pedang dan kapak-kapak mereka,yang memercikan api hingga menciptakan sambaran kilat.. Mereka masih menunggu..Dan terus menunggu..Untuk datang kembali ke dunia..


TAMAT

Dongeng Singa dan Tikus | Dongeng Anak Terbaru

Singa dan Tikus
Dongeng Singa dan TikusPada suatu hari, ada seekor tikus kecil yang sedang asik mencari makan. Saking asiknya, dia tak sadar bahwa dia sudah berjalan terlalu jauh dari rumahnya hingga masuk ke dalam hutan yang cukup lebat. Sadar akan hal itu, si Tikus pun segera bergegas mencari jalan untuk pulang, tapi nasibnya sungguh malang, dia malah tersesat lebih jauh lagi ke dalam hutan. Lama dia mencari jalan untuk bisa pulang kerumahnya, tapi tikus itu belum juga mendapat jalan dan ahirnya kelelahan.

Tak terasa, waktu sudah hampir gelap. Tikus itu masih terus berusaha mencari jalan pulang. Tapi sepertinya hari ini nasibnya benar-benar buruk, ketika tengah kebingungan mencari jalan untuk bisa pulang, dirinya malah tak sengaja masuk di sarang seeekor singan yang tengah tidur pulas. Ranting yang tak sengaja diinjaknya membuat singa yang sedang tidur itu terbangun dan segera mencengkeram tikus itu dengan kuku-kuku tajamnya. “ Hai mahluk kecil.. berani benar kau mengganggu tidur ku. Jika sudah bangaun begini, harus ada yang bisa ku makan. Maka kau akan menjadi makan malam ku. Grrrr…”. Kata singa menggeram.

Mendengar singa yang tengah marah, si tikus malang itu menjadi sangat ketakutan. Dia pun memberanikan diri untuk angkat bicara” ma’af singa yang perkasa.. aku tak sengaja. Aku tersesat di hutan ini ketika sedang mencari makan. Aku sudah beruaha mencari jalan untuk keluar dari hutan, tapi malah tak sengaja aku malah masuk ke dalam sarang mu. Ma’af kan aku.. kasihanilah anak-isteriku yang sedang menunggu ku di rumah. Aku janji, jika kau melepaskan aku, maka suatu saat aku akan membalas kebaikan mu”. Kata tikus memelas.

Mendengar perkataan tikus, singa menjadi tertawa terpingkal-pingkal. ‘”Hahaha.. mahluk kecil seperti mu bisa apa? Hingga kau berani berjanji untuk menolong ku? Tapi baiklah.. karena kau sudah membuat ku tertawa dan aku juga kasihan dengan anak dan isteri mu, maka kali ini kau akan ku lepaskan. Kau jalanlah lurus kea rah utara, maka kau akan bisa keluar dari hutan ini. dan ingat..!! jangan sampai kau kembali lagi ke sini, atau aku akan memakan mu dan tak akan mengampuni mu”. Kata singa. Mendengar itu, si tikus menjadi sangat senang. Tak henti-hentinya dia memanjatkan syukur dan bertekad akan menepati jajinya pada singa suatu saat nanti.

Tiga bulan sudah berlalu setelah kejadian itu, pada suatu pagi.. si tikus mencari makan seperti biasa. Kini dia hanya berkeliling di sekitar perbatasan hutan saja, karena takut jika kembali tersesat seperti dulu. Ketika si tikus tengah asik mencari makan, lamat-lamat dia mendengar suara erangan. Suaranya sudah sangat lemah. Dia pun mencari dari mana arah suara itu. Betapa kagetnya dia ketika melihat singa yang dulu pernah di temuinya tengah tak berdaya terjebak dalam jaring yang di pasang oleh pemburu. Tikus pun mendekatinya dan bertanya tentang perihal kejadian yang menimpa singa.

Ternyata, sudah tiga hari lamnya singa terjebak di situ. Dia sudah berusaha meronta dan berusaha keluar dari jerat jaring itu, tapi sia-sia. Ahirnya dia terkulai lemas karena kehabisan tenaga dan kelaparan. Mendengar kisah singa itu, si tikus menjadi iba. Lalu dia pun ingat pada janjinya dahulu, bahwa kelak dia akan membantu singa sebagai balas budi. Maka dia pun berkata pada singa “ Hai singa yang perkasa.. dahulu kau meragukan janji ku yang akan menolong mu karena ukuran tubuh ku yang kecil, Tapi kali ini mahluk kecil ini akan menunjukan bahwa dia bisa menepati janji meski ukuranya tak seberapa”. Mendengar perkataan si tikus, singa sedikit kaget. Ternyata mahluk kecil itu masih ingat dengan janjinya dan bukan di buat alas an hanya sekedar untuk melarikan diri. Maka dalam hatinya, singa mengakui sifat yang di milikioleh si tikus.

Tikus itu lalu dengan segera menghampiri singa, dan menggigit tiap tali yang menjerat tubuh sang singan hingga semua tali itu putus. Ahirnya setelahbeberapa waktu, semua tali itu dapat di putuskan dan sang singa ahirnya bebas. Lalu singa menghampiri tikus dan berkata” Terimakasih kau telah menolong ku. Kini aku mengakui keberanian dan kemampuan mu. Kemampuan tak di ukur dari bentuknya, tapi lebih dari apa yang mampu mereka lakukan. Maka mulai saat ini, aku mengangkat mu menjadi sahabat. Dan kelak jika kau butuh pertolongan ku, maka aku akan dating untuk membantu mu”. Kata singan kemudian kembali ke dalam lebatnya hutan. Sementara si tikus segera kembali ke rumahnya. Hatinya merasa senang karena kini dia mendapat teman baru serta sudah mampu menepati jani yang pernah dia buat dulu.

                                                                             TAMAT

Tentang Wali Songo dalam Menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa

Wali songo
Wali Songo memiliki arti yaitu Sembilan wali, sembilan wali yang diyakini sebagai para tokoh penyebar agama Islam di pulau jawa pada abad ke 14 Masehi. Dengan hadirnya era Wali Songo ini maka berakhirlah era Hindu Budha yang sebelumnya menguasai Nusantara dan digantikan dengan adanya agama Islam.

Terdapat tokoh-tokoh lain yang berperan menyebarkan agama Islam di Nusantara, namun ke sembilan tokoh tersebut digadang-gadang menjadi tokoh penyebar Islam yang paling kondang dan paling berperan besar di masa itu. Wali Songo tersebut tinggal di wilayah penting yang ada di pulau jawa yaitu di Jawa Timur tepatnya di wilayah Gresik, Surabaya, Lamongan, Tuban, di Jawa Barat tepatnya di wilayah Cirebon, dan di Jawa Tengah tepatnya di wilayah Kudus ada Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), Demak, Muria ada Sunan Muria (Raden Umar Said).

Hubungan antar Wali Songo

Wali Songo ini tidak hidup secara bersamaan, namun diantara mereka terdapat hubungan erat baik antara orang tua dan anak maupun guru dengan murid, contohnya saja Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang merupakan wali tertua dan mempunyai anak bernama Raden Rahmat (Sunan Ampel). Shekh Maulana Ishaq (Sunan Giri) yang merupakan keponakan dari Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang secara otomatis merupakan sepupu dari Raden Rahmat (Sunan Ampel). Raden Rahmat (Sunan Ampel) ini mempunyai anak yang bernama Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qosim (Sunan Drajad). Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) mempunyai sahabat sekaligus sebagai muridnya yang bernama Raden Said (Sunan Kalijaga). Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) merupakan sahabat dari Wali Songo kecuali Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang sudah terlebih dahulu meninggal.

Peran Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam

Peran dari Wali Songo ini sangat besar dalam menyebarkan agama Islam. Ini tentu bukan tugas yang mudah, karena ajaran Hindu Budha masih melekat kuat di masyarakat Nusantara. Penyebaran Islam di Nusantara tidak serta merta langsung di terima oleh masyarakat, buktinya saja saat awal penyebaran Islam di Nusantara, Kerajaan Majapahit sedang mengalami perang paregrek. Ini menjadikan Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam tidak digubris oleh masyarakat.
Setiap wali tersebut mempunyai cara yang unik dalam menyebarkan ajaran Islam yang selaras dengan budaya masyarakat Nusantara pada masa itu, sehingga perlahan-lahan ajaran Islam bisa diterima baik oleh masyarakat dan semakin berkembang pesat. Cara yang dilakukan para wali yaitu dengan mendirikan kerajaan Islam, berdakwah, menciptakan karya seni yang sesuai dengan budaya Hindu Buddha yang masih kental di masyarakat, diajarkan cara bercocok tanam yang benar, menjadi tabib di Kerajaan Majapahit, dilatih berdagang sesuai dengan ajaran Islam dan masih banyak lagi (kisah wali sanga di persembahkan oleh dongengterbaru.blogspot.com). Semua ajaran yang diajarkan oleh Wali Songo, dilakukan dengan baik-baik dan tanpa ada paksaan, sehingga masyarakat merasa nyaman dengan ajaran tersebut dan mulai memeluk agama Islam. Ajaran dari para wali tersebut masih bisa dirasakan hingga saat ini dan penerusnya juga semakin banyak.

Kisah Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Kisah sunan gunung jati
Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, beliau sudah ditinggal mati ayahnya. Beliau didaulat menjadi Raja Mesir menggantikan ayahnya, namun Sunan Gunung jati tidak menyetujuinya, beliau lebih memilih berdakwah menyebarkan agama Islam bersama ibunya di tanah jawa. Kedudukan tersebut kemudian diberikan kepada adiknya yaitu Syarif Nurullah.

Saat masih berada di Mesir, beliau sudah berguru kepada para ulama besar di daratan Timur Tengah, sehingga di umur yang baru menginjak 20 tahun ini beliau sudah banyak menguasai ilmu tentang ajaran Islam. Ini tentu saja menjadi modal berharga dalam kepulangannya ke jawa untuk dapat berdakwah menyebarkan agama Islam.

Sebelum Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dan ibunya Syarifah Muda’im datang ke Jawa Barat pada tahun 1475 Masehi, mereka terlebih dahulu singgah di Gujarat dan Pasai guna untuk memperdalam ilmu agama. Kedatangannya disambut gembira oleh Pangeran Cakrabuana beserta keluarganya. Syarifah Muda’im meminta agar dirinya dan putranya bisa tinggal di Pasambangan atau Gunungjati. Syarif Muda’im dan juga putranya berniat untuk meneruskan perjuangan dari Syekh Datuk Kahfi untuk membuka pesantren di Gunugjati. Dengan dibukanya pesantren tersebut, Syarif Hidayatullah lebih dikenal dengan nama Sunan Gunugjati.

Pangeran Cakrabuana akhirnya menikahkan putrinya yakni Nyi Pakungwati dengan pria bernama Syarif Hidayatullah. Di usia yang sudah lanjut Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dengan gelar susuhan yang berarti orang yang dijunjung tinggi.

Di awal pemerintahannya Syarif Hidayatullah mengunjungi kediaman kakeknya yang berada di Pajajaran. Nama kakeknya yaitu Prabu Siliwangi. Kedatangannya bermaksud untuk mengIslamkan Prabu Siliwangi. Namun keinginan Syarif Hidatullah ditolak dan beliau tetap diperbolehkan untuk menyebarkan agama Islam di daerah Pajajaran.

Setelah dari Pajajaran, beliau melanjutkan perjalanannya menuju Serang. Disana sudah banyak ditemukan orang Muslim, pasalnya telah banyak orang Gujarat dan Arab yang telah bermukim. Kedatangan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) ini mendapat sambutan hangat oleh Adipati Banten. Bahkan, Adipati Banten menjodohkan anaknya yang bernama Nyi Kawungten dengan Sunan Gunung Jati. Dari perkawinan tersebut lahirlah anak yang diberi nama Nyi Ratu Winaon dan juga Pangeran Sebakingking. Di dalam menyebarkan agama Islam Syarif Hidayatullah tidak bekerja sendiri, beliau dibantu oleh para wali lainnya. Mereka biasanya melakukan musyawarah di Masjid Demak. Beliau juga dikenal sebagai orang yang ikut serta dalam pembangunan masjid agung tersebut.

Pergaulannya dengan para wali dan juga Sultan Demak, menjadikan Sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Pakungwati lalu ia memproklamirkan dirinya sebagai raja yang pertama kali mendapat gelar sultan. Dengan adanya kesultanan tersebut maka Cirebon tidak lagi mengirimkan upeti ke Pajajaran.

Kesultanan Pakungwati semakin besar dengan bergabungnya perwira dan prajurit pilihan. Terlebih lagi dengan adanya perluasan pelabuhan Muara Jati, maka perdagangan dengan berbagai Negara menjadi semakin pesat terutama dengan Negara China. Jalinan antara Cirebon dan China semakin erat, dan Sunan Gunung Jati mengembara ke China dan mulai berdakwah dengan ilmu pengobatan yang terkenal di sana. Beliau juga menguasai ilmu pengobatan tradisional. Di dalam dakwahnya beliau mengajarkan ilmu shalat kepada rakyat China dengan memberitahukan bahwa setiap gerakan yang dilakukan ketika shalat merupakan gerakan terapi pijat yang ringan atau biasa disebut dengan akupuntur.

Apalagi jika gerakan yang dilakukan saat shalat menggunakan gerakan yang benar serta lengkap dengan tuma’ninah dan amalan sunahnya. Dengan mendirikan shalat lima waktu secara rutin dan tidak mengonsumsi daging babi karena mengandung cacing pita ini maka pengobatan yang dilakukan dengan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dapat segera sembuh.

Dari ajarannya tersebut, selain beliau mengobati penyakit dari penduduk China beliau juga telah mengajarkan Shalat yang menjadi tiang agama. Suatu hari Kaisar China mendengar kehebatan dari Syarif Hidayatullah dan berniat untuk membuktikan kesaktiannya dengan mengundang ke istana. Kaisar China ingin menguji kepandaian dari Sunan Gunung Jati yaitu dengan membedakan mana wanita yang sedang hamil muda dan mana wanita yang masih perawan. Kaisar menggunakan kedua anaknya sebagai sampel. Anak kaisar yang tidak hamil perutnya diganjal dengan menggunakan bantal dan yang sedang hamil dibiarkan saja. Lalu kaisar bertanya mana wanita yang sedang hamil, seketika Syarif Hidayatullah menunjuk putri Ong Tien yang masih perawan. Semua orang tertawa, namun selang beberapa saat ternyata bantal yang mengganjal perut Ong Tien berubah menjadi perut besar layaknya ibu hamil.

Dengan kejadian tersebut kaisar menjadi murka dan mengusir Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dari China. Karena putri Ong Tien sudah terlanjur jatuh cinta dengan Sunan Gunung Jati, maka kaisar mengijinkan agar putrinya menyusul Sultan Gunung Jati ke jawa dengan dibekali berbagai harta benda dan juga barang berharga dan dikawal oleh tiga pengawal sekaligus. Mereka akhirnya menikah. Di tahun 1568 Masehi beliau wafat dan dimakamkan di Cirebon.

Kisah Sunan Muria (Raden Umar Said)

Kisah sunan muria
Sunan Muria
Sunan Muria mempunyai nama asli Raden Umar Said, beliau merupakan anak kandung dari Sunan Kalijaga (Raden Said) dan Dewi Saroh. Beliau mewarisi bakat ayahnya dalam berdakwah, cara yang dilakukan agar masyarakat memeluk agama Islam pun dengan cara yang halus. Beliau tinggal Gunung Muria.

Di Gunung Muria tersebut beliau melakukan dakwahnya. Letak Gunung Muria ini berada di sebelah utara Kota Kudus. Sasaran dakwah beliau yaitu kalangan nelayan, pelaut, rakyat jelata da juga pedagang. Sunan Muria (Raden Umar Said) merupakan satu-satunya wali yang tetap mempertahankan gamelan dan wayang sebagai media dakwahnya. Beliau juga pencipta tembang Kinanti dan Sinom.

Sunan Muria dan juga istrinya diketahui memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, bagaimana tidak mereka harus naik turun bukit setiap harinya yang jaraknya sekitar 750 meter untuk menyebarkan agama Islam kepada para pelaut, nelayan, pedagang, dan juga rakyat jelata. Bukti nyata kesaktian luar biasa yang dimiliki oleh Raden Umar Said terdapat pada perjalanan cintanya dengan Dewi Roroyono. Dewi Roroyono merupakan anak dari Sunan Ngerang. Sunan Ngerang merupakan orang yang disegani dengan ilmunya yang tinggi. Karena kesaktiaannya Sunan Muria (Raden Umar Said) dan Sunan Kudus sampai berguru padanya.

Suatu hari Sunan Ngerang mengadakan syukuran atas umur dua puluh tahun yang telah dimiliki oleh Dewi Roroyono. Semua murid dari Sunan Ngerang diundang, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, Adipati Pathak Warak, Kapa dan juga adiknya Gentiri. Selain itu tetangga dan kerabat dekat lainnya ikut diundang. Setelah semua berkumpul tibalah Dewi Roroyono beserta adiknya Dewi Roro Pujiati keluar untuk menghidangkan beberapa makanan dan minuman. Paras cantik yang dimiliki kedua putri tersebut memang sudah tidak bisa diragukan lagi, terlebih kecantikan dari Dewi Roroyono.
Sunan Kudus dan Sunan Muria mampu menahan pandangannya karena sudah memiliki ilmu yang tinggi, sehingga tidak mudah tergoda dengan rayuan iblis. Lain halnya dengan Adipati Pathak Warak yang melihat kecantikan Dewi Roroyono dengan tanpa berkedip, ia sungguh terpesona akan paras ayu Dewi Roroyono. Karena tidak tahan, Adipati langsung menggoda dan memegangi bagian tubuh yang tidak pantas disentuh. Dewi Roroyono pun marah dan menyiramnya dengan minuman.
Kejadian tersebut menjadikan Adipati Pathak Warak kesal dan setelah larut malam Adipati menculik Dewi Roroyono dan di bawanya ke Keling. Ya, ia memang menginap di rumah Sunan Ngerang bersama Sunan Muria karena rumahnya yang jauh. Tentu kesempatan ini merupakan kesempatan emas bagi adipati.

Sunan Ngerang pun mengucapkan ikrar siapa saja yang berhasil membawa putrinya pulang akan dijadikan saudara jika perempuan dan akan dijadikan jodohnya jika laki-laki. Karena Adipati ini dianggap sakti maka tidak ada yang berani menandinginya. Sampai Sunan Muria (Raden Umar Said) bertekad untuk membawa pulang Dewi Roroyono. Di dalam perjalanan menuju Keling, beliau bertemu dengan adik seperguruannya yaitu Gentiri dan Kapa. Kakak adik tersebut kompak ingin membantu membebaskan Dewi Roroyono dan menyuruh Sunan Muria untuk mengajar murid-muridnya karena itu lebih penting. Mereka berjanji akan mengawinkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.

Dewi Roroyono pun berhasil dibebaskan namun kabar ini belum terdengar di telinga Sunan Muria. Saat Sunan Muria pergi ke kediaman Sunan Ngerang beliau bertemu dengan adipati mereka terlibat perkelahian yang dimenangkan oleh Sunan Muria.

Sesampainya di kediaman Sunan Ngerang, beliau disambut dengan gembira dan akhirnya mereka pun menikah. Setelah menikah, Kapa dan Gentiri menyesal mengapa mereka dengan mudah menawarkan bantuan kepada Sunan Muria (Raden Umar Said) untuk membebaskan Dewi Roroyono dan sekarang beliau telah menikahinya dengan tanpa perjuangan. Sifat licik dari kakak beradik itu pun muncul, mereka juga terpesona akan kecantikan yang dimiliki Dewi Roroyono. Mereka berencana untuk menculik Dewi Roroyono dan menikahinya secara bergantian.

Awalnya Gentiri yang memulai cara licik tersebut. Saat ia akan melancarkan niatnya ternyata dipergoki oleh murid Sunan Muria dan terjadilah pertempuran dahsyat, apalagi Sunan Muria yang mengetahui hal tersebut dan langsung menyerang Gentiri hingga tewas.

Kematian yang dialami oleh Gentiri tidak menciutkan nyali Kapa untuk menikahi Dewi Roroyono, ia pun mulai melancarkan aksinya dengan menculik wanita idamannya ke Pulau Seprapat. Kala itu Sunan Muria sedang pergi ke Demak Bintoro. Setelah kunjungannya ke Demak Bintoro beliau berniat untuk mengunjungi sahabatnya Wiku Lodhang yang berada di Pulau Seprapat. Dia merupakan orang yang telah menolong beliau untuk menyelamatkan istrinya.

Ternyata Kapa juga membawa Dewi Roroyono ke rumah Wiku Lodhang dan langsung memarahinya. Tak berapa lama Sunan Muria datang dan melihat istrinya tergeletak lemas, Kapa langsung melancarkan serangan ke Sunan Muria (Raden Umar Said) hingga akhirnya dia meninggal dengan serangan yang dilakukannya sendiri. Ya, Sunan Muria dianggap sakti dan bisa mengembalikan serangan dari lawan.

Dengan begitu kehidupan suami istri antara Sunan Muria (Raden Umar Said) dan Dewi Roroyono berakhir bahagia.

Kisah Sunan Kalijaga (Raden Said)

Sunan Kalijaga mempunyai nama asli Raden Said. Beliau merupakan putra dari Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilantikta atau biasa disebut sebagai Raden Sahur. Sejak kecil Raden Said telah dididik mengenai agama Islam oleh guru agama di Kadipaten Tuban. Beliau sangat tidak menyukai para penguasa yang ada di Tuban. Mereka berbuat semena-mena pada rakyat kecil ini yang membuat Raden Said marah.
Kisah sunan kalijaga
Sunan Kalijaga - Raden Said

Kemarahan beliau semakin menjadi-jadi tatkala melihat pejabat Tuban yang menarik pajak kepada rakyat miskin. Rakyat di Tuban telah mengalami penderitaan akibat dari kemarau yang panjang ditambah lagi harus membayar pajak, tentu saja rakyat akan semakin menderita. Telebih pajak yang ditarik kadang tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Maka dari itu rakyat sungguh sengsara.
Sunan Kalijaga (Raden Said) terkenal dengan mudah bergaulnya, walaupun beliau anak dari Adipati Tuban namun beliau lebih suka berhgaul dengan rakyat yang biasa. Beliau berteman dengan masyarakat dari berbagai kalangan mulai dari yang miskin hingga yang kaya. Dengan mudah bergaulnya tersebut Raden Said menjadi tahu keadaan rakyat Tuban yang sebenarnya.

Raden Said telah menyampaikan niatnya untuk mengurangi penderitaan rakyat Tuban kepada ayahnya. Namun apa daya ayahnya tidak bisa berbuat banyak. Raden said pun bisa memaklumi keadaan tersebut, karena Adipati berada di bawah pimpinan Kerajaan Majapahit yang mengharuskan rakyat membayar pajak. Dengan keadaan tersebut Raden Said berinisiatif untuk keluar rumah di malam hari, dan meninggalkan membaca ayat suci Al-Qur’an yang telah dilakukannya di malam-malam sebelumnya.

Beliau melakukan pencurian hasil bumi yang berada di gudang kadipaten. Pajak bumi tersebut merupakan pajak yang diberikan oleh rakyat. Hasil curian tersebut lalu dibagikan kepada rakyat tidak mampu secara tersembunyi. Lama kelamaan tindakan tersebut diketahui oleh ayahnya sendiri, lalu beliau di hokum cambuk sebanyak 200 kali di tangannya dan di kurung selama beberapa hari di kamarnya.

Setelah hukuman selesai Sunan Kalijaga (Raden Said) benar-benar keluar dari kadipaten dan tidak kembali lagi, hal ini membuat cemas keluarganya. Beliau masih melakukan pencurian dengan menggunakan pakaian serba hitam dan mengenakan topeng. Sasaran yang beliau curi adalah kaum bangsawan yang pelit dan tidak mau bersedekah kepada rakyat kecil. Hasil curiannya tentu sasa dibagikan kepada rakyat miskin. Suatu hari beliau dijebak oleh orang yang membencinya dengan menyamar berpakaian seperti dirinya. Beliau di fitnah telah memperkosa seorang anak.

Dari kejadian tersebut ayahnya menjadi marah dan mengusirnya dari Kadipaten Tuban. Beliau tidak boleh pulang sebelum dapat menggetarkan dinding istana dengan suara merdu lantunan ayat Al-Qur’an yang selama ini sering dibaca di malam hari. Dewi Rasawulan tidak percaya dengan fitnah tersebut ia merasa iba dengan kakaknya tersebut. Dewi Rasawulan pun berinisiatif untuk pergi mencari kakaknya dan membujuknya kembali pulang ke kadipaten.

Sunan Kalijaga (Raden Said) melakukan perjalanan yang tidak pasti arah dan tujuannya hingga sampailah di hutan jatiwangi. Disana beliau menjadi pencuri yang budiman, yaitu dengan mencuri harta orang kaya yang pelit dan dibagikannya kepada masyarakat yang tidak mampu. Suatu hari beliau bertemu dengan seorang kakek tua yang mengenakan jubah putih sambil membawa tongkat yang gagangnya berkilauan. Orang tersebutlah yang berhasil menyadarkan Sunan Kalijaga (Raden Said) bahwa cara yang dilakukannya untuk menolong orang tidak mampu merupakan cara yang salah. Orang tersebut mengumpamakan perilaku Raden Said bagaikan mencuci baju dengan air kencing.
Dari situlah Raden Said ingin menjadi murid dari kakek tua tersebut. Namun ada syarat yang harus dipenuhi yaitu dengan menunggui tongkat yang telah ditancapkan di tanah sampai kakek tua datang. Ujian tersebut mampu dijalani oleh Raden said selama tiga tahun beliau bersemedi di tempat tersebut. Setelah ujian berhasil raden Said dibersihkan tubuhnya dan diberi pakaian yang bersih, kemudian beliau di bawa ke Tuban. Mengapa demikian? Karena kakek tua berjubah putih itu adalah Sunan Bonang.

Dengan Sunan Bonang, beliau mulai menimba ilmu mengenai pelajaran agama. Gelar Sunan Kalijaga didapatkannya karena beliau pernah menunggui sungai selama bertahun-tahun. Dalam bahasa jawa kali berarti sungai dan jaga berarti menjaga.

Setelah bertahun-tahun ibu Raden Said mengetahui kabar bahwa anaknya tidak bersalah dan ia merasa menyesal telah mengusir anaknya. Untuk mengobati rasa rindu dari ibunya, Sunan Kalijaga (Raden Said) mengerahkan ilmu tingginya untuk melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dari kejauhan dan nantinya suara tersebut di kirim ke Kadipaten Tuban. Suara merdu dari Raden Said mampu menggetarkan dinding istana dan siapa saja yang mendengarnya.

Sunan Kalijaga (Raden Said) memutuskan untuk mengembara sembari berdakwah menyebarkan agama Islam dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat. Kearifan dan kebijaksanaan dalam berdakwah yang dimiliki Raden Said mampu menjadikannya sebagai Guru Suci se-tanah jawa. Saat usia senjanya beliau memilih Kadilangu, Demak sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.

Kisah Sunan Giri (Syekh Maulana Ishaq)

Sunan Giri mempunyai nama lain yaitu Syekh Maulana Ishaq. Beliau merupakan wali yang berasal dari Gujarat yang menetap di Pasai. Pasai ini sekarang lebih dikenal dengan nama Aceh. Syekh Maulana Ishaq ingin menyebarkan agama Islam didaerah Jawa Timur. Beliau pun datang menemui Sunan Ampel (Raden Rahmat) untuk meminta pertimbangan. Sunan Ampel masih sepupu dari Syekh Maulana Ishaq. Menurut Sunan Ampel, beliau disarankan untuk menyebarkan agama Islam di daerah Blambangan, posisinya di sebelah selatan dari Banyuwangi.
Kisah Sunan Giri (Syekh Maulana Ishaq)
Sunan Giri Syekh Maulana Ishaq
Pada saat Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) sampai di Blambangan, ternyata disana sedang ada wabah penyakit dan putri raja Blambangan yang bernama Dewi Sekardadu pun ikut terkena wabah penyakit tersebut. Wabah penyakit ini sangat mengerikan, karena banyak orang yang meninggal. Seluruh penduduk di Blambangan merasa prihatin dan berduka cita atas kejadian tersebut. Akibatnya keseharian yang biasa dilakukan oleh masyarakat menjadi terhenti.

Banyak tabib yang namanya sudah terkenal mencoba menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak berhasil juga. Dengan inisiatif dari permaisuri , maka Prabu Menak Sembuyu setuju untuk mengadakan sebuah sayembara. Sayembara itu berbunyi “barang siapa yang dapat menyembuhkan putrinya yaitu Dewi Sekardadau maka akan dijadikan menantunya, dan barang siapa yang dapat menghilangkan wabah penyakit di Blambangan, maka akan dijadikan sebagai Bupati atau Raja Muda. sayembara tersebut semakin berkembang luas beritanya. Seiring dengan berkembangnya waktu mulai dari hari, minggu bahkan sampai berbulan-bulan tak seorangpun yang sanggup untuk mengikuti sayembara tersebut.

Keadaan tersebut tentu saja membuat permaisuri merasa sedih, untuk menghiburnya maka Prabu Menak Sembuyu memerintahkan Patih Bajul Sengara untuk berkelana mencari seorang pertapa yang sakti yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut.

Patih Bajul Sengasara mulai melakukan perjalanan yang didampingi oleh beberapa prajurit yang terpilih. Menurut informasi, biasanya pertapa tinggal di lereng-lereng gunung maupun dipuncaknya, segeralah Patih Bajul Sengasara dan rombongan menuju ke sana. Di dalam perjalannanya Patih Bajul Sengasara bertemu dengan Resi Kandabaya. Resi ini mengetahui keberadaan orang sakti yang berasal dari negeri seberang. Orang yang dimaksud adalah Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) yang sedang menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Akhirnya Patih Bajul Sengasara dapat menemui Syekh Maulana Ishaq di dalam sebuah goa. Negosiasi pun terjadi, Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) mau untuk menyembuhkan rakyat Blambangan namun dengan syarat yaitu raja dan rakyat Blambangan mau untuk memeluk agama Islam. Kesepakatan pun terjadi dan Syekh Maulana Ishaq segera pergi ke Blambangan. Syekh Maulana Ishaq ini memang ahli di bidang ilmu ketabiban. Dengan ilmu yang dimilikinya dan atas seizin Allah S.W.T, beliau berhasil menyembuhkan Dewi Sekardadu dan berhasil pula menghilangkan wabah penyakit di Blambangan. Keluarga raja pun tidak melupakan janjinya untuk segera memeluk agama Islam. Karena berhasil memenangkan sayembara, beliau kemudian dikawinkan dengan Dewi Sekardadu dan diangkat sebagai Adipati yang menguasai sebagian wilayah dari Blambangan.

Rakyat yang memeluk agama Islam semakin hari semakin bertambah, ini yang menjadi penyebab Patih Bajul Sengasara iri pada Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) dan berusaha untuk menghasut Prabu Menak Sembayu. Selain itu, Patih bajul Sengasara diam-diam telah melakukan teror kepada pengikut dari Syekh Maulana Ishaq. Dia melakukan penculikan terhadap rakyat yang sudah memeluk agama Islam dan dipaksanya untuk kembali keagamaan yang lama. Kejadian ini pun sampai di telinga Syekh Maulana Ishaq beliau memutuskan untuk meninggalkan Blambanga karena tidak mau terjadi pertumbahan darah nantinya. Beliau pun memutuskan untuk berkelana ke Pasai yang sekarang di sebut sebagai Aceh dan meninggalkan istri tercintanya yang sedang mengandung 7 bulan.
Pada tengah malam Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) mulai melakukan perjalanannya seorang diri dan meninggalkan istri dan juga Blambangan. Keesokan harinya Patih Bajul Sengasara beserta rombongan berhasil masuk wilayah kadipaten dan mengacak-acaknya, namun ia tak berhasil menemukan Syekh Maulana Ishaq, karena beliau telah pergi. Dua bulan kemudian Dewi Sekardadu melahirkan seorang putra yang elok rupanya dan bercahaya. Setelah usia bayi menginjak 40 hari, Patih Bajul Sengasara berusaha untuk menghasut Prabu Menak Sembayu agar membunuh cucunya tersebut. Karena tidak tega, maka diam-diam sang prabu mengahanyutkan cucunya yang di masukan peti ke lautan.

Akhirnya bayi tersebut di temukan oleh Nyai Ageng Pinatih dan diasuhnya serta diberi nama Joko Samodra, setelah remaja Joko Samodra dimasukkan ke pesantren yang dipimpin oleh Sunan Ampel di Surabaya. Tak berapa lama Sunan Ampel mengetahui jika Joko Samudro merupakan anak dari Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq). Sunan Ampel lalu mengganti nama Joko Samodra menjadi Raden Paku. Saat usia 16 tahun beliau Sunan Ampel memerintahkan Raden Paku untuk berguru dan menambah pengalaman ke Pasai serta bertujuan untuk menyatukan Raden Paku dengan Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq).

Sunan Giri dikenal sebagai pencipta lagu permainan anak dan juga pencipta lagu Gending Asmaradhana dan Pucung. Lagu tersebut syarat akan nuansa Islaminya.