Kisah Sunan Giri (Syekh Maulana Ishaq)

Sunan Giri mempunyai nama lain yaitu Syekh Maulana Ishaq. Beliau merupakan wali yang berasal dari Gujarat yang menetap di Pasai. Pasai ini sekarang lebih dikenal dengan nama Aceh. Syekh Maulana Ishaq ingin menyebarkan agama Islam didaerah Jawa Timur. Beliau pun datang menemui Sunan Ampel (Raden Rahmat) untuk meminta pertimbangan. Sunan Ampel masih sepupu dari Syekh Maulana Ishaq. Menurut Sunan Ampel, beliau disarankan untuk menyebarkan agama Islam di daerah Blambangan, posisinya di sebelah selatan dari Banyuwangi.
Kisah Sunan Giri (Syekh Maulana Ishaq)
Sunan Giri Syekh Maulana Ishaq
Pada saat Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) sampai di Blambangan, ternyata disana sedang ada wabah penyakit dan putri raja Blambangan yang bernama Dewi Sekardadu pun ikut terkena wabah penyakit tersebut. Wabah penyakit ini sangat mengerikan, karena banyak orang yang meninggal. Seluruh penduduk di Blambangan merasa prihatin dan berduka cita atas kejadian tersebut. Akibatnya keseharian yang biasa dilakukan oleh masyarakat menjadi terhenti.

Banyak tabib yang namanya sudah terkenal mencoba menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak berhasil juga. Dengan inisiatif dari permaisuri , maka Prabu Menak Sembuyu setuju untuk mengadakan sebuah sayembara. Sayembara itu berbunyi “barang siapa yang dapat menyembuhkan putrinya yaitu Dewi Sekardadau maka akan dijadikan menantunya, dan barang siapa yang dapat menghilangkan wabah penyakit di Blambangan, maka akan dijadikan sebagai Bupati atau Raja Muda. sayembara tersebut semakin berkembang luas beritanya. Seiring dengan berkembangnya waktu mulai dari hari, minggu bahkan sampai berbulan-bulan tak seorangpun yang sanggup untuk mengikuti sayembara tersebut.

Keadaan tersebut tentu saja membuat permaisuri merasa sedih, untuk menghiburnya maka Prabu Menak Sembuyu memerintahkan Patih Bajul Sengara untuk berkelana mencari seorang pertapa yang sakti yang bisa menyembuhkan penyakit tersebut.

Patih Bajul Sengasara mulai melakukan perjalanan yang didampingi oleh beberapa prajurit yang terpilih. Menurut informasi, biasanya pertapa tinggal di lereng-lereng gunung maupun dipuncaknya, segeralah Patih Bajul Sengasara dan rombongan menuju ke sana. Di dalam perjalannanya Patih Bajul Sengasara bertemu dengan Resi Kandabaya. Resi ini mengetahui keberadaan orang sakti yang berasal dari negeri seberang. Orang yang dimaksud adalah Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) yang sedang menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Akhirnya Patih Bajul Sengasara dapat menemui Syekh Maulana Ishaq di dalam sebuah goa. Negosiasi pun terjadi, Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) mau untuk menyembuhkan rakyat Blambangan namun dengan syarat yaitu raja dan rakyat Blambangan mau untuk memeluk agama Islam. Kesepakatan pun terjadi dan Syekh Maulana Ishaq segera pergi ke Blambangan. Syekh Maulana Ishaq ini memang ahli di bidang ilmu ketabiban. Dengan ilmu yang dimilikinya dan atas seizin Allah S.W.T, beliau berhasil menyembuhkan Dewi Sekardadu dan berhasil pula menghilangkan wabah penyakit di Blambangan. Keluarga raja pun tidak melupakan janjinya untuk segera memeluk agama Islam. Karena berhasil memenangkan sayembara, beliau kemudian dikawinkan dengan Dewi Sekardadu dan diangkat sebagai Adipati yang menguasai sebagian wilayah dari Blambangan.

Rakyat yang memeluk agama Islam semakin hari semakin bertambah, ini yang menjadi penyebab Patih Bajul Sengasara iri pada Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) dan berusaha untuk menghasut Prabu Menak Sembayu. Selain itu, Patih bajul Sengasara diam-diam telah melakukan teror kepada pengikut dari Syekh Maulana Ishaq. Dia melakukan penculikan terhadap rakyat yang sudah memeluk agama Islam dan dipaksanya untuk kembali keagamaan yang lama. Kejadian ini pun sampai di telinga Syekh Maulana Ishaq beliau memutuskan untuk meninggalkan Blambanga karena tidak mau terjadi pertumbahan darah nantinya. Beliau pun memutuskan untuk berkelana ke Pasai yang sekarang di sebut sebagai Aceh dan meninggalkan istri tercintanya yang sedang mengandung 7 bulan.
Pada tengah malam Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq) mulai melakukan perjalanannya seorang diri dan meninggalkan istri dan juga Blambangan. Keesokan harinya Patih Bajul Sengasara beserta rombongan berhasil masuk wilayah kadipaten dan mengacak-acaknya, namun ia tak berhasil menemukan Syekh Maulana Ishaq, karena beliau telah pergi. Dua bulan kemudian Dewi Sekardadu melahirkan seorang putra yang elok rupanya dan bercahaya. Setelah usia bayi menginjak 40 hari, Patih Bajul Sengasara berusaha untuk menghasut Prabu Menak Sembayu agar membunuh cucunya tersebut. Karena tidak tega, maka diam-diam sang prabu mengahanyutkan cucunya yang di masukan peti ke lautan.

Akhirnya bayi tersebut di temukan oleh Nyai Ageng Pinatih dan diasuhnya serta diberi nama Joko Samodra, setelah remaja Joko Samodra dimasukkan ke pesantren yang dipimpin oleh Sunan Ampel di Surabaya. Tak berapa lama Sunan Ampel mengetahui jika Joko Samudro merupakan anak dari Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq). Sunan Ampel lalu mengganti nama Joko Samodra menjadi Raden Paku. Saat usia 16 tahun beliau Sunan Ampel memerintahkan Raden Paku untuk berguru dan menambah pengalaman ke Pasai serta bertujuan untuk menyatukan Raden Paku dengan Sunan Giri (Syekh Maulanan Ishaq).

Sunan Giri dikenal sebagai pencipta lagu permainan anak dan juga pencipta lagu Gending Asmaradhana dan Pucung. Lagu tersebut syarat akan nuansa Islaminya.

Kisah Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

Sunan Kudus mempunyai nama kecil bernama Ja’far Shadiq yang merupakan anak dari Sunan Ngudung dari Jipan Panolan. Ja’far Shadiq merupakan senopati Demak yang sebelumnya di jabat oleh ayahnya sendiri. Beliau belajar mengenai ajaran agama Islam dari ayahnya sendiri dan juga dengan beberapa ulama terkenal yaitu Ki Ageng Ngerang, Sunan Ampel, dan Kyai Telingsing. Kyai Telingsing ini merupakan ulama yang berasal dari China. Kyai Telingsing ini mahir dalam membuat ukiran, tak jarang banyak yang berguru padanya tak terkecuali Sunan Kudus (Ja’far Shadiq). Dari kyai China tersebut Ja’far Shadiq belajar mengenai arti dari ketekunan dan juga kedisiplinan dalam mencapai cita-cita yang ingin diraih. Ini tentu menjadi modal yang besar dalam dakwah Ja’far Shadiq dimana beliau harus menghadapi rakyat yang masih beragama Hindu dan Buddha.
Kisah Sunan Kudus
Sunan Kudus

Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) dalam dakwahnya termasuk pendukung dari gagasan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dimana strategi dakwahnya adalah sebagai berikut

  1. Tidak menggunakan jalur kekerasan, artinya biarlah masyarakat hidup dengan kepercayaan yang dulu dan sulit dirubah.
  2. Adat istiadat lama yang mudah diubah maka akan segera diubah sesuai dengan ajaran Islam.
  3. Mengikuti setiap adat istiadat yang telah berkembang di masyarakat serta menyisipkan ajaran agama Islam di dalamnya.
  4. Menghindari konfrontasi secara langsung dalam menyebarkan agama Islam.

Tantangan yang dihadapi oleh Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) dalam menyebarkan agama Islam adalah beliau harus berhadapan dengan rakyat yang kebanyakan beragama Hindu dan Buddha serta mereka masih memegang teguh kepercayaan yang lama. Suatu hari Ja’far Shadiq membeli seekor sapi dan ditambatkan di depan rumah. Secara otomatis penduduk setempat penasaran mau diapakan sapi tersebut. Di dalam agama Hindu sapi merupakan hewan yang suci dan dilarang untuk disembelih. Setelah rakyat berkumpul di halaman rumah Ja’far Shadiq, tibalah beliau untuk bicara bahwa dirinya melarang kepada masyarakat untuk menyakiti apalagi sampai menyembelih hewan sapi, sebab saat beliau masih kecil pernah ditolong oleh sapi yaitu dengan disusui saat beliau hampir mati kehausan.
Dari cerita tersebut, rakyat hindu langsung takjub dan menyangka jika Ja’far Shadiq merupakan titisan dari Dewa Wisnu. Mereka pun semakin antusias dengan ceramah yang akan disampaikan oleh Ja’far Shadiq. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) menambahkan bahwa larangan menyembelih sapi terdapat dalam Al-Qur’an. Dengan perkataanya tersebut rakyat semakin tertarik dan ingin tahu lebih lengkap dari keterangan yang diberikan Ja’far Shadiq.

Simpati dari masyarakat telah didapatkan dan Ja’far Shadiq pun semakin mudah untuk mengIslamkan mereka. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) mendirikan sebuah masjid yang bentuknya mirip dengan candi-candi Hindu. Dengan begitu rakyat tidak merasa canggung jika memasuki masjid tersebut dan bersedia untuk mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh Ja’far Shadiq.
Untuk menarik simpati dari masyarakat yang beragama buddha, Ja’far Shadiq
mempunyai trik yang menarik yaitu dengan membuat tempat berwudhu yang setiap pancurannya terdapat arca kepala Kerbau Gumarang di atasnya. Strategi ini pun berhasil membuat masyarakat beragama Buddha penasaran dan mulai memasuki masjid untuk mendengarkan keterangan dari Ja’far Shadiq.

Dalam menyebarkan agama Islam Ja’far Shadiq ini pernah mengalami kegagalan dalam mengumpulkan masyarakat yang masih memegang adat istiadat dan kepercayaan lama. Lalu Ja’far Shadiq mengamati masyarakat jawa yang kental dengan tradisinya yaitu adanya tradisi mitoni atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai upacara tujuh bulanan. Ja’far Shadiq ingin merubah kebiasaan tersebut menjadi sesuai dengan agama Islam. Jika biasanya upacara tersebut berupa permintaan kepada dewa agar diberikan anak yang tampan seperti Arjuna atau yang cantik seperti Dewi Ratih, maka kebiasaan tersebut diubah menjadi permintaan yang langsung kepada Allah S.W.T agar diberikan anak yang tampan seperti Nabi Yusuf atau anak perempuan yang cantik seperti Siti Maryam . dengan begitu ayah dan ibu harus sering-sering membaca Surat Yusuf dan Surat Mariam yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Untuk memperkenalkan cara berwudhu, maka Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) mengundang masyarakat untuk menghadiri acara mitoni istrinya yang diselenggarakan di masjid. Karena syarat yang diberikan untuk masuk ke masjid dengan membasuh tangan dan kaki maka masyarakat keberatan dan banyak yang tidak hadir. Kemudian dengan memberikan sedikit pengetahuan tentang ajaran tauhid, mereka perlahan mau membasuh tangan dan kaki terlebih dahulu sebelum masuk ke masjid. Meskipun cara tersebut sempat gagal namun, Ja’far Shadiq tetap berusaha keras agar caranya berhasil. Di dalam masjid beliau menyampaikan dakwahnya secara cerdik, sehingga masyarakat semakin dibuat penasaran dan ingin mendengarkan ceramahnya lagi. Lama-kelamaan kebiasaan ini semakin berlanjut dan masyarakat sekitar menjadi mengenal berwudhu. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) diperkirakan wafat pada tahun 1550 Masehi.

Itulah keteladanan dari kisah Ja’far Shadiq yang tak pernah gentar untuk menyebarkan agama Islam walaupun pernah gagal namun beliau tetap gigih dalam memperjuangkan agama Islam.

Cerita Dongeng KANCIL dan GAJAH yang takut TIKUS| Dongeng Anak Terbaru

cerita gajah dan tikus
Cerita Dongeng Kancil dan Gajah yang takut Tikus – Pada suatu hari, si Kancil berniatberkunjung ke kediaman si tikus sahabat lamanya. Pagi-pagi sekali si Kancil sudah mulai berangkat dari rumah, agar dia tak terlalu siang tiba di rumah si Tikus. Si Tikus tinggal di sebuah kawasan kecil di pinggir hutan, tempat itu sangat indah karena terdapat sebuah danau kecil di tempat itu. Si Tikus tinggal secara berkelompok, terdiri dari beberapa keluara dan di pimpim oleh tetua tikus yang menjadi sahabat karib si kancil. Akhirnya setelah berjalan hampir setengah hari, si kancil tiba di perkampungan tikus dan di sambut gembira oleh tikus sahabatnya. “ Wah.. kancil sahabat ku, sudah lama kita tidak bertemu. Tapi kau masih saja kurus tak gemuk-gemuk”. Canda si tikus menggoda. “ Ah.. benar.. sejak peristiwa terahir kali kita bertemu dengan singa, hingga kini kita baru bertemu lagi. Tapi anehnya, badan mu tetap saja kecil tak tinggi-tinggi. Hehehe..”. si kancil membalas canda sahabatnya itu.

Mereka memang sudah lama tak bertemu sejak peristiwa si kancil menolong tikus dari singa, bahkan karena pertolongan si kancil tikus dan singa akhirnya bersahabat. Kedua kawan lama itu bersenda gurau dengan hangatnya mengenang masa lalu mereka. Saling puji dan saling ejek seakan menjadi hal biasa yang selalu bisa mendatangkan tawa yang membuat mereka lebih akrab. Tapi beberapa waktu kemudian, mereka dikagetkan oleh tanah yang terguncang. Mereka lari keluar dari rumah karena mengira terjadi gempa bumi, tek terkecuali si kancil. Tapi ternyata anggapan mereka salah. Karena yang membuat bumi berguncang adalah segerombolan gajah yang merangsak masuk ke daerah pinggir utan dan memakan semua tumbuhan di sana. Akibatnya, tempat itu menjadi porak poranda karena banyak pohon yang tumbang dan patah diterjang oleh para gajah.

Melihat hal itu, si tikus menjadi perihatin. Merasa memiliki tanggung jawab sebagai kepala kampong, si tikuspun menghampiri kawanan gajah itu untuk member nasehat. Melihat kawanya berjalan kea rah gerombolan gajah, si kancil mengikuti karena takut jika terjadi sesuatu pada si tikus. “ Hai kawan-kawan.. aku mohon jangan merusak alam di sekitar sini. Ini kampong kami, jadi silahkan kembali dan mencari makan ke padang rumput tempat biasa kalian mencari makan. Lihatlah, banyak pohon yang patah dan tumbang karena kalian terjang membabi buta”. Kata tikus. Mendengar ada yang berkata pada mereka, gerombolan gajah mencari-cari dari mana arah suar itu muncul. Lama merak mencari tapi tak melihat satu sosok yang mereka lihat. Tapi begitu mereka tahu bahwa yang berkata pada merekaadalah seekor tikus yang sedang berdiri di atas batu, kontan mereka tertawa terbahak-bahak. Lalu datanglah satu gajah yang cukup besar menghampiri si tikus yang ditemani kancil disampingnya. Mungkin gajah besar itu adalah kepala gerombolan.

“ Hai makhluk kecil, apa yang kau bilang? Mau mengatur kami? Mahluk kecil rendahan seperti mu tak pantas berada disini sok menasehati. Bisa-bisa kamu terinjak oleh kami lalu gepeng dan mati. Hahahahaha..”. kata kepala gajah itu. Si tikus terdiam, dia agak takut karena gajah itu memiliki tubuh yang besar dan kuat. Sedangkan dirinya bertubuh kecil dan lemah jika dibanding para gajah. Melihat temanya yang ketakutan, si kancil akhirnya ikut angkat bicara. “ Hai makhluk sombing.. kamu tak tahu dengan siapa kamu bicara?”. Teriak kancil. Para gajahpun mengalihkan pandangan pada si kancil yang bertubuh mungil dan kecil. “ Hahahaha.. ada hewan mungil lagi yang sok jadi pahlawan kesiangan. Memangnya si kerdil itu sapa? Kamu tak tahu kalu kami ini hewan terkuat di sini? Bahkan harimau dan singa, tak ada yang berani melawan kami..”. kata gajah menyombongkan diri.

Dengan geram kancil menjawab.. “ Dia itu adalah raja htan di sini. Jangankan Cuma kamu, harimau dan singa saja mampu dia makan dengan giginya yang tajam dan kuat”. Kata kancil. “hahahaha.. apa kamu bilang? Kamu mimpi ya? Makhluk kecil rendahan ini mau memakan kami juga? Sudah gila kau ya?”. Kata gajah mengejek sambil tertawa terbahak. “Oooo.. jadi kalian meragukan kemampuan raja kami ini? mau bukti?”. Tantang kancil. “Buktikan kalau memang benar begitu.. apa yang ingin kau tunjukan hewan kecil?”. Tanya gajah mulai marah karena tersinggung. “ Baik.. apa kau mampu memakan batang pohon dan kayu?” Tanya kancil. “ Hah.. gila kau..!! mana mungkin ada hewan yang mampu memakan batang kayu? Bahkan gigi singan dan harimau yang tajam, tak akan mampu memakan kayu”. Kata gajah. Seakan tahu dengan siasat kancil, si tikus berusaha sok angkuh dan berani. “ Raja ku ini, giginya sangat kuat dan tajam, jangankan daging kalian, batang kayu yang besarpun tak menjadi masalah untuk dirinya. Mampu dia robohkan dan dia makan..”. kata kancil. “ Hahahahahaha.. dua hewan kecil yang gila..”. kata gajah semakin mengejek.

“Baiklah kalau kalian tak percaya.. tapi jika semua kata-kata ku mampu dibuktikan, kalian harus bersedia menjadi santapan raja ku ini. Dia sudah cukup lama tak makan daging gajah, kalian jangan lari ya..”. Kata si kancil menantang. Si kancil lalu member isyarat pada si tikus untuk melanjutkan tugasnya, tikuspun lalu menuju sebuah pohon yang cukup besar. Lalu menggigit batang pohon itu, mengeratnya hingga pohon itu lama-lama terkikis dan hampir tumbanga. Melihat hal itu, para gerombolan gajah menjadi kaget, mereka mengira bahwa tikus memang kuat dan mampu memakan segalanya termasuk mereka. Tanpa menunggu komando, semua kawanan gajah itu lari kalang kabut mencari selamat karena takut jika tikus benar-benar akan memakan mereka semua. Melihat hal itu, tikus dan kancil tertawa geli..” Ya.. lari sana.. tapi jika sampai raja ku bertemu kalian lagi, maka dia akan memakan kalian hidup-hidup.. ingat itu..!!”. gajah adalah hewan yang memiliki ingatan yang cukup kuat. Semenjak hari itu, kawanan gajah tak ada lagi yang berani ke tempat itu. Bahkan setiap gajah bertemu dengan tikus, mereka akan merasa ketakutan karena takut dimakan olehnya. Dan itu terus berlanjut hingga saat ini. dan menjadi sebab kenapa gajah takut dengan tikus..

                                                                       The End

Kisah Sunan Drajat (Raden Qosim)

Kisah sunan drajat
Sunan Drajat
Sunan Drajat memiliki nama kecil bernama Raden Qosim, lahir sekitar tahun 1470 Masehi. Beliau merupakan adik kandung dari Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) dan merupakan anak dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan juga Dewi Condrowati. Karena ayahnya seorang wali dan kakaknya juga seorang wali, maka pengetahuan tentang Islam yang dimiliki oleh Sunan Drajat ini sudah tidak bisa diragukan lagi. Beliau dianggap sudah mumpuni untuk ikut serta menyebarkan agama Islam. Beliau juga mendapat gelar Raden Syaifuddin.

Sunan Ampel (Raden Rahmat) memerintahkan beliau untuk berdakwah ke Gresik bagian barat. Daerah tersebut merupakan daerah yang kosong dari para ulama-ulama besar, letaknya diantara Tuban dan juga Gresik. Sunan Drajat (Raden Qosim) melakukan perjalanan melalui jalur laut. Sesudah singgah di rumah Sunan Giri (Shekh Maulana Ishak) beliau melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu. Tiba-tiba di tengah perjalanan perahu beliau dihantam oleh ombak besar, sehingga menabrak karang dan hancurlah perahu yang ditunggangi oleh Sunan Drajat (Raden Qosim). Peristiwa tersebut hampir saja membuat Raden Qosim kehilangan nyawanya, namun Allah S.W.T berkehendak lain. Allah S.W.T mengirimkan ikan talang kepadanya agar menyelamatkan Raden Qosim dengan menaiki punggung ikan tersebut Raden Qosim berhasil menuju tepi pantai. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala-galanya.

Sunan Drajat (Raden Qosim) merasa sangat beruntung dan bersyukur kepada Allah S.W.T atas pertolongan yang diberikan kepadanya, sehingga dapat terlepas dari peristiwa mengerikan itu. Beliau juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada ikan talang tersebut atas bantuannya, sehingga Raden Qosim bisa selamat. Dengan kejadian itu Raden Qosim menitipkan pesan kepada anak keturunannya agar jangan sampai kalian memakan daging dari ikan talang walaupun itu hanya sedikit. Jika pantangan tersebut dilanggar, maka akan terjadi bencana berupa ditimpa penyakit yang tidak ada lagi obatnya.

Raden Qosim dibawa olehikan talang menuju tepi pantai dari Desa Jelag yang sekarang disebut sebagai Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran. Sesampainya di desa tersebut beliau disambut dengan antusias oleh warga setempat, terlebih lagi masyarakat telah mengetahui bahwa Raden Qosim merupakan anak dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) yang merupakan wali besar yang pernah memimpin agama Islam se-tanah jawa. Jika dihitung-hitung Sunan Ampel (Raden Rahmat) ini masih merupakan kerabat keratin dari Kerajaan Majapahit, sehingga masyarakat Desa Jelag menyambut Raden Qosim ini dengan sangat baik.

Di Desa Jelag ini Raden Qosim mulai mendirikan pesantren yang digunakan untuk mendidik para mubaligh. Beliau mengajarkan agama Islam kepada masyarakat dengan cara unik, sehingga banyak yang tertarik untuk memeluk agama Islam dan banyak juga yang ingin berguru kepadanya. Di Desa Jelag ini beliau hanya bertahan 1 tahun, karena mendapat ilham untuk menuju ke arah selatan yang berjarak sekitar 1 kilometer lalu beliau mulai mendirikan langgar sebagai tempat beribadah.
Setelah menetap selama 3 bulan di empat tersebut Sunan Drajat (Raden Qosim) mendapat petunjuk untuk mendirikan tempat dakwah yang letaknya strategis yaitu di ketinggian, lalu diberi nama Dalem Duwur. Di Dalem Duwur inilah tempat dibangunnya Museum Sunan Drajat.

Dalam menyebarkan agama Islam, Raden Qosim menganut aliran putih yang dipimpin oleh Sunan Giri (Sekh Maulana Ishak). Aliran putih ini maksudnya adalah dalam berdakwah beliau menganut jalan yang lurus, karena agama Islam harus diamalkan secara lurus dan benar sesuai dengan ajaran yang telah diajarkan oleh nabi.

Raden Qosim berdakwah dengan menggunakan kesenian rakyat berupa gamelan jawa. Beliau juga dikenal sebagai wali yang paling bersahaja, karena beliau memiliki sifat yang dermawan terhadap semua kalangan terutama kalangan rakyat bawah. Beliau sering menolong rakyat yang sedang mengalami kesusahan. Bahkan di pondok pesantrennya, beliau menampung banyak anak yatim piatu dan juga fakir miskin.

Selain terkenal dengan kedermawannya dan memiliki jiwa sosial, ternyata beliau juga dikenal sebagai anggota dari wali songo yang ikut mendukung dan membantu mendirikan Masjid Demak. Masjid ini merupakan simbol dari kebesaran dan kejayaan agama Islam pada masanya.
Ajaran dari Sunan Drajat (Raden Qosim) bersumber pada :

  1. Al-Qur'an
  2. Sunnah
  3. Ijma'
  4. Qiyas
  5. Ajaran dari guru dan pendidik yang tidak lain adalah ayahnya sendiri
  6. Ajaran dan pemikiran
  7. Tradisi masyarakat sekitar yang mencerminkan agama Islam
  8. Fatwa dari Sunan Drajat (Raden Qosim)

Di dalam bidang kesenian, selain mahir di bidang ukir dan suluk, beliau juga dikenal sebagai pencipta Gending Pangkur untuk yang pertama kalinya. Sampai sekarang ini Gending Pangkur ciptaan Raden Qosim masih disukai oleh rakyat jawa. Gelar Sunan Drajat didapatkannya karena beliau yang tinggal di bukit yang tinggi seakan-akan melambangkan ilmu atau derajat yang tinggi. Sunan Drajat (Raden Qosim) wafat sekitar tahun 1522 Masehi dan makamnya bertempat di sebelah Museum Sunan Drajat.

Cerita Legenda Bawang Merah dan Bawang Putih Dongeng Singkat

Cerita Bawang Merah dan Bawang Putih
bawang merah dan bawang putih sumber gambar kompasiana.com
Legenda Bawang Merah dan Bawang - Dahulu kala, ada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Mereka memiliki seorang puteri yang diberi nama bawang putih. Namun pada suatu hari, ibu bawang putih jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Setelah kejadian itu, bawang putih hidup sendiri dengan ayahnya. Ayah bawang putih adalah seorang pedagang yang sering bepergian jauh. Karena tak tega meninggalkan bawang putih sendirian di rumah, akhirnya ayah bawang putih memutuskan menikah lagi dengan seorang janda. Janda tersebut memiliki satu anak yang diberi nama bawang merah.
Sebenarnya niat ayahnya adalah agar bawang putih tak kesepian dan memiliki teman yang membantunya di rumah. Namun ternyata, ibu dan kakak tiri bawang putih memiliki sifat yang jahat. Mereka bersikap baik pada bawang putih hanya ketika ayahnya ada bersamanya. Namun ketika ayahnya pergi berdagang, mereka menyuruh bawang putih mengerjakan segala pekerjaan rumah seperti seorang pembantu. Ternyata kemalangan bawang putih belum berhenti sampai disitu, selang beberapa waktu, ayah bawang putih juga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Kini, ibu tiri dan bawang merah bersikap semakin jahat pada bawang putih. Bahkan waktu beristirahat bawang putih juga semakin terbatas. Tiap hari dia harus melayani semua kebutuhan bawang merah dan ibu tirinya. Sampai disuatu pagi ketika bawang putih mencuci di sungai, tanpa disadari salah satu selendang kesayangan bawang merah hanyut. Ketika sampai rumah, bawang merah memarahi bawang putih karena selendangnya tak dia temukan. Dia menyuruh bawang putih mencari selendang itu dan tidak boleh pulang sebelum menemukanya. Akhirnya, bawang putih menyusuri sungai untuk mencari selendang itu. Hingga larut malam, selendang itu belum juga dia temukan. Ketika tengah menyusuri sungai, bawang putih nelihat sebuah gubuk, ternyata gubuk itu dihuni oleh seorang nenek sebatang kara. Bawang putih akhirnya meminta izin untuk menginap semalam.

Nenek itu cukup baik hati, dia mempersilahkan bawang putih untuk menginap. Nenek itu juga menanyakan perihal tentang bawang putih, dan bagaimana dia sampai di tempat itu. Bawang putih pun menceritakan nasib yang dialaminya, hingga nenek yang mendengar itu merasa iba. Ternyata, selendang yang dicari bawang putih ditemukan oleh si nenek. Dan nenek itu mau menyerahkan selendang itu dengan syarat bawang putih harus menemaninya selama seminggu. Bawang putih menerima tawaran itu dengan senang hati.

Waktu seminggupun berlalu, dan kini waktunya bawang putih untuk pulang. Karena selama tinggal disitu bawang putih sangat rajin, nenek itu memberikan selendang yang dulu dia temukan dan memberi hadiah pada bawang putih. Dia disuruh memilih diantara dua buah labu untuk dia bawa. Awalnya bawang putih ingin menolak, namun karena ingin menghormati pemberian, bawang putih akhirnya memilih labu yang kecil dengan alasan takut tak kuat membawanya. Dan nenek itu hanya tersenyum mendengar alasan itu.

Setelah itu, bawang putihpun segera pulang dan menyerahkan selendang itu pada bawang merah. Setelah itu dia segera ke dapur untuk membelah labu dan memasaknya. Namun betapa terkejutnya dia, karena ketika labu itu dibelah, ternyata labu itu berisi emas permata yang sangat banyak. Secara tak sengaja, ibu tiri bawang putih melihatnya dan langsung merampas semua emas itu. Bukan hanya itu, dia juga memaksa bawang putih untuk menitakan dari mana dia mendapat labu ajaib itu. Bawang putihpun menceritakan semua kejadian yang dialaminya.

Mendengar cerita bawang putih, muncul niat jahat di benak ibu tiri yang serakah itu. Esok paginya, dia menyuruh bawang merah untuk melakukan hal yang sama seperti yang silakukan bawang putih, dia berharap akan bisa membawa pulang labu yang lebih besar sehingga isinya lebih banyak.

Singkat cerita, bawang merah yang malas itu tiba di gubuk nenek, dan diapun tinggal disitu selama seminggu. Namun karena sifatnya yang pemalas, dia hanya bermalas-malasan saja dan tidak mau membantu pekerjaan si nenek. Dan ketika sudah waktunya pulang, diapun di suruh memilih labu sebagai hadiah. Tanpa fikir panjang, dia langsung mengambil labu yang besar dan segera berlari pulang tanpa mengucapkan terimakasih.

Setelah tiba dirumah, ibunya sangat senang melihat anaknya membawa labu yang sangat besar. Dia berfikir pasti emas di dalamnya cukup banyak. Karena tak ingin diketahui oleh bawang putih dan takut jika bawang putih minta bagian, mereka menyuruh bawang putih mencuci disungai. Setelah itu mereka masuk kamar dan menguncinya dengan rapat.

Dengan tak sabar, mereka segera membelah labu itu. Namun diluar dugaan, bukan emas yang ada didalamnya. Melainkan labu itu dipenuhi ular, kalajengking, kelabang, dan berbagai hewan berbisa. Dengan cepat hewan-hewan itu keluar dari labu dan menggigit kedua anak dan ibu serakah itu. Mereka tak mampu kabur, karena pintu kamar mereka kunci rapat dan mereka tutup dengan lemari dari dalam. Akhirnya, mereka mati di dalam kamar bersama keserakahan mereka. Setelah mereka mati, hewan-hewan berbisa itu kenyap tak berbekas. Demikian dongeng singkat yang saya ceritakan mengenai cerita anak bawang merah bawang putih semoga bermanfaat.

Kisah Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Sunan Bonang mempunyai nama asli Syekh Maulana Makhdum Ibrahim yang merupakan putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Dewi Condrowati atau biasa disebut dengan Nyai Ageng Manila. Karena Sunan Bonang merupakan anak dari wali yang menjadi pemimpin agama Islam di tanah jawa dan disegani dengan ilmu yang dimilikinya, maka sejak kecil Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) ini telah dididik dengan ajaran Islam secara disiplin dan juga tekun.
Kisah Sunan Bonang
Sunan Bonang
Sebelum menjadi wali, tentu saja Sunan Ampel (Raden Rahmat) telah dilatih dengan keras dan dibekali dengan ilmu yang mumpuni. Berdasarkan pandangan dari Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) ini akan menjadi wali nantinya sehingga Sunan Ampel (Raden Rahmat) mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin.

Berdasarkan dari berbagai sumber bahwa Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) dan juga Raden Paku saat masih remaja melanjutkan pelajaran mengenai agama Islam hingga ke tanah seberang, yaitu di daerah negeri pasai. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) dan juga Raden Paku menimba ilmu pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam yang merupakan ayah kandung dari Sunan Giri (Syekh Maulana Ishaq). Selain itu, Sunan Bonang dan Raden Paku juga menimba ilmu pengetahuan dari ulama-ulama besar yang tinggal di negeri pasai. Kebanyakan dari ulama tersebut ahli dalam bidang tasawuf, mereka berasal dari berbagai Negara seperti Mesir, Baghdad, Iran, dan juga Arab.

Seusai menimba ilmu dari para ulama besar yang berada di negeri pasai, Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) dan juga Raden Paku kembali lagi ke tanah jawa. Raden Paku memutuskan untuk pergi ke Gresik. Disana beliau mendirikan Pesantren di Desa Giri, sehingga beliau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Bonang lalu diperintahkan untuk menyebarkan agama Islam dengan berdakwah di daerah Rembang, Lasem, Tuban, dan juga daerah Sempadan Surabaya.

Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) mempunyai cara yang sangat unik dan menarik dalam berdakwah, yaitu beliau menggunakan kesenian rakyat setempat untuk menarik simpati dari masyarakat. Cara yang digunakan yaitu menggunakan seperangkat alat gamelan yang disebut dengan bonang. Bonang ini yaitu alat music yang terbuat dari kuningan dengan bagian tengah yang menonjol yang biasa disebut pencon. Bonang ini memainkan melodi lagu. Cara memainkannya dipukul bagian yang menonjol dengan menggunakan dua alat pemukul khusus terbuat dari tongkat yang berlapis yang biasanya disebut dengan bindhi. Suara bonang yang merdu ini mampu membuat masyarakat sekitar merasa terhibur.

Sunan Bonang ini memiliki cita rasa seni tinggi, sehingga jika beliau yang memainkan alat musik bonang tersebut maka orang yang mendengar akan langsung terpesona dan terperanga. Buktinya setiap Sunan Bonang memainkan gamelan, banyak penduduk yang ingin menyaksikan beliau dari jarak dekat. Dengan kemahiran yang dimiliki Sunan Bonang dalam memainkan gamelan, maka tidak sedikit rakyat setempat yang ingin belajar dengan beliau bahkan berminat juga untuk memainkan melodi lagu yang telah diciptakan oleh Sunan Bonang. Itulah trik yang dilakukan oleh Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) dalam meraih simpati dari masyarakat. Dengan antusiasme dari masyarakat tersebut maka Sunan Bonang tinggal mengajarkan agama Islam kepada masyarakat.

Kecerdikan dari Sunan Bonang ini beliau memasukkan unsur Islam di dalam setiap tembang-tembang yang diciptakan. Jadi tanpa terasa masyarakat telah mempelajari ajaran Islam dengan menyanyikan dan memainkan melodi tersebut, dengan begitu masyarakat tetap bisa belajar ajaran Islam dengan hati riang dan tidak ada paksaan sama sekali.

Sebutan Sunan Bonang didapat karena Makhdum Ibrahim menggunakan alat musik bonang sebagai media untuk berdakwah. Kepandaian beliau dalam mengajarkan agama Islam menjadikan pengikutnya semakin banyak baik yang berada di daerah Pulau Bawean, Madura, Tuban, Jepara, maupun di Surabaya.

Sunan Bonang juga menciptakan sebuah karya sastra yang disebut dengan Suluk. Karya sastra tersebut dianggap sebagai karya sastra yang luar biasa karena menciptakan suatu keindahan akan makna kehidupan beragama. Karya sastra Suluk milik Sunan Bonang ini sekarang masih tersimpan dengan rapi di sebuah Perpustakaan dari Universitas ternama yang bernama Universitas Leiden, Belanda.

Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) sering melakukan dongeng dakwah keliling daerah hingga usianya lanjut. Beliau meninggal dunia saat melakukan dakwah di Bawean. Berita tersebut dengan cepat menyebar dan para murid Sunan Bonang berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Terjadi selisih paham dalam memakamkan jenazah beliau ada yang berpendapat dimakamkan di Bawean ada juga yang berpendapat dimakamkan di Surabaya berdampingan dengan Sunan Ampel ayah kandungnya. Kain kafannya pun berasal dari orang Bawen dan juga Orang Surabaya, Madura. Atas izin Allah makam Sunan Bonang ada di dua tempat berbeda yang pertama ada di Tuban dan yang kedua ada di Bawean. Namun makam yang asli berada di Tuban dan banyak didatangi oleh peziarah dari tanah air. Sunan Bonang diketahui wafat pada tahun 1525.

Kisah Sunan Ampel (Raden Rahmat)

kisah sunan ampel wali songo
Sunan Ampel
Sunan Ampel mempunyai nama asli yaitu Raden Rahmat dan merupakan keturunan dari Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan Dewi Condro Wulan. Sunan Ampel (Raden Rahmat) ini juga dianggap sesepuh dari para wali. Beliau menikah sebanyak dua kali. Yang pertama menikah dengan Dewi Condrowati yang mempunyai gelar Nyai Ageng Manila dan dikaruniai anak bernama Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim), Siti Syari’ah, Sunan Drajat (Raden Qosim), Sunan Sedayu, Siti Mutmainah, dan terakhir Siti Hafsah. Pernikahan kedua dengan Dewi Karimah dan mempunyai putra bernama Asyiqah, Dewi Murtasiyah, Raden Husamuddin (Sunan Lamongan), Pangeran Tumapel, Raden Zainal Abidin (Sunan Demak) dan yang terakhir Raden Faqih.

Kisahnya Sunan Ampel (Raden Rahmat) menyebarkan agama Islam di daerah Surabaya. Di dalam perjalanannya menuju ke Surabaya, Sunan Ampel juga sembari berdakwah menyebarkan agama Islam dengan cara yang sangat unik yaitu dengan membuat kerajinan kipas yang dianyam dengan menggunakan rotan dan akar tumbuh-tumbuhan. Untuk mendapatkan kipas tersebut ada syarat yang diberikan oleh Sunan Ampel yaitu berupa mengucapkan kalimat syahadat. Ternyata kipas tersebut juga dapat menyembuhkan penyakit, seperti demam dan batuk, karena terdapat akar tumbuhan dan rotan. Khasiat dari kipas buatan Sunan Ampel ini semakin banyak peminatnya dan mulai dari situlah Sunan Ampel mengenalkan agama Islam sesuai dengan pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat.

Saat Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan juga rombongannya tiba di Desa Kembangkuning, mereka membuka lahan hutan untuk dijadikan langgar sebagai tempat ibadah masyarakat sekitar. Sekarang langgar tersebut telah menjelma menjadi masjid besar yang dinamakan Masjid Rahmat Kembangkuning. Di daerah ini juga Sunan Ampel bertemu dengan tokoh masyarakat bernama Ki Bang Kuning dan Ki Wiryo Sarojo. Dari pertemuan yang terjadi kedua tokoh masyarakat tersebut akhirnya memeluk agama Islam dan menjadi pengikut Sunan Ampel (Raden Rahmat). Dengan demikian penyebaran agama Islam di daerah tersebut akan semakin mudah.

Pendekatan kepada masyarakat pun semakin berjalan lancar dengan adanya kedua tokoh masyarakat tersebut, terlebih kepada masyarakat yang masih menyimpang dengan kepercayaan lamanya. Cara Sunan Ampel (Raden Rahmat) menyadarkan mereka yaitu dengan mengajarkan sedikit demi sedikit tentang ajaran ketauhidan atau ajaran keimanan kepada Tuhan. Kisah Sunan Ampel tidak langsung menentang kepercayaan mereka, karena beliau percaya jika masyarakat memahami ajaran tauhid maka mereka akan meninggalkan kepercayaan lama dengan sendirinya.
Tibalah Sunan Ampel dan rombongan di tempat tujuan yaitu Desa Ampeldenta. Pertama memasuki desa tersebut Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan rombongan mendirikan masjid untuk tempat beribadah bersama. Perilaku Sunan Ampel ini meneladani dari perilaku yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W saat berhijrah ke Madinah. Beliau mendapat sebutan Sunan Ampel karena dianggap menjadi panutan masyarakat atau orang yang berilmu di Desa Ampeldenta.

Agama Islam pun semakin berkembang dan Sunan Ampel (Raden Rahmat) mulai mendirikan pesantren. Pesantren ini sebagai tempat mendidik para pangeran dan putra bangsawan dari Kerajaan Majapahit serta siapa saja yang ingin berguru dengannya. Sunan Ampel terkenal dengan ajarannya yang terkenal yaitu disebut dengan falsafah Moh Limo yang artinya tidak melakukan lima hal yang tercela diantaranya adalah :

  1. Moh Main Artinya adalah tidak mau melakukan judi
  2. Moh Ngombe Artinya adalah tidak mau meminum minuman keras atau bermabuk-mabukan
  3. Moh Maling Artinya adalah tidak mau mencuri
  4. Moh Madat Artinya adalah tidak mau mengonsumsi obat-obatan terlarang seperti sabu, ganja, dan lain-lain.
  5. Moh Madon Artinya adalah tidak mau untuk berbuat zina ataupun memainkan perempuan yang bukan merupakan istrinya.

Dengan ajaran tersebut Prabu Brawijaya memperbolehkan Sunan Ampel untuk menyiarkan agama Islam ke berbagai wilayah Surabaya dan daerah kekuasaan Majapahit dengan syarat tidak adanya pemaksaan terhadap rakyat untuk memeluk agama Islam. Sunan Ampel pun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan untuk beragama.

Setelah Sunan Gresik wafat maka Sunan Ampel yang menjadi sesepuh wali songo selanjutnya sekaligus menjadi pemimpin agam Islam se-tanah jawa. Semua wali songo patuh dan tunduk kepada fatwa dari Sunan Ampel dan tidak hanya itu saja, semua orang Islam di jawa juga patuh kepada perintah Sunan Ampel (Raden Rahmat). Dongeng di tahun 1477 Sunan Ampel membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Diantara empat tiang yang berdiri Sunan Ampel ikut ambil bagian dalam pembuatannya, salah satu tiang yang dibuat beliau sampai saat ini masih diberi nama Sunan Ampel.

Sunan Ampel juga yang menciptakan Huruf Pegon yaitu tulisan Arab yang berbunyi Bahasa Jawa. Dengan adanya huruf ini maka mengajarkan agama Islam di tanah jawa menjadi lebih mudah. Sampai sekarang ini huruf tersebut dipakai dalam bahan ajaran Islam yang ada di pesantren.
Sunan Ampel (Raden Rahmat) menginginkan agar agama Islam di ajarkan secara murni dan konsekuen, sehingga aqidah ummat terselamatkan dan tidak tergelincir ke dalam kemusyrikan. Beliau wafat tahun 1478 Masehi dan makamnya di sebelah barat Masjid Ampel.